Senin, 01 September 2014

Warta Bola | Portal Berita Terpercaya



Jakarta - Perjuangan meneruskan energi baik gas bumi tidak boleh berhenti, supaya kebaikan energi senantiasa memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari kilang LNG Tangguh Papua, kapal pengangkut gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) itu, mengarungi lautan menuju Lampung. Di Lampung sudah menunggu PGN FSRU Lampung yang siap menampung dan kemudian mengubah LNG menjadi gas (regasifikasi). Pada akhir Juli 2014, bongkar muat LNG ke PGN FSRU Lampung itu berlangsung.

PGN FSRU Lampung adalah FSRU kedua yang dimiliki PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN). FSRU pertama adalah FSRU Jawa Barat, hasil patungan melalui PT Nusantara Regas. FSRU adalah sebuah kapal yang dilengkapi dengan fasilitas penampung LNG dan fasilitas regasifikasi yaitu yang bisa mengubah gas alam cair menjadi gas.

PGN FSRU Lampung adalah salah satu infrastruktur gas bumi teranyar PGN dalam perjuangan untuk meneruskan energi baik gas bumi kepada masyarakat. “Sebagai BUMN gas satu-satunya di Indonesia, PGN akan terus mengembangkan infrastruktur gas bumi dalam mendukung upaya pemerintah untuk mempercepat konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG),” kata Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso.

Mengembangkan Infrastruktur Gas Bumi Terdepan di Indonesia

Selain FSRU, berbagai infrastruktur gas bumi juga terus dibangun PGN. Di Lampung, hingga akhir Juli 2014 PGN sudah menyelesaikan lebih dari 90 kilometer jaringan distribusi gas bumi dari total 100 kilometer yang direncanakan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga sudah meresmikan ground breaking Infrastruktur Gas Bumi Terintegrasi Jawa Tengah, yang terdiri dari pipa transmisi Kalija I sepanjang 207 kilometer dan jaringan distribusi Jawa Tengah sepanjang 317 kilometer, mulai dari Kendal, Semarang, Kudus, Ungaran dan Solo Raya.

Pipa transmisi Kalija I menghubungkan sumber gas di Lapangan Kepodang ke PLTGU Tambak Lorok PLN. Pipa Kalija I ditargetkan rampung pada kuartal III 2015. Operasional pipa Kalija I ini akan memberi penghematan kepada PLN lebih dari Rp 2 triliun per tahun.

Di wilayah DKI Jakarta, hingga kuartal pertama tahun ini PGN menambah jaringan gas bumi sepanjang 60 kilometer. Sebelumnya PGN sudah mengoperasikan pipa gas bumi di DKI Jakarta sepanjang 701 kilometer. Masih di DKI, PGN juga sudah memulai pembangunan jaringan pipa Muara Karang – Muara Bekasi sepanjang 45 kilometer. Pembangunan jaringan distribusi gas juga dilakukan di berbagai daerah lain seperti Jawa Barat, Riau dan Jawa Timur.

Hingga saat ini PGN memiliki jaringan pipa gas bumi sepanjang lebih dari 6.000 kilometer yang terbentang di Sumatera dan Jawa. Jaringan pipa itu melayani konsumen PGN mulai dari rumah tangga, UKM, listrik dan transportasi. “Mayoritas konsumen kami adalah rumah tangga dan usaha kecil sepert warung bakso dan pempek,” kata Hendi Prio Santoso.

Lebih Murah, Aman, Praktis, Ramah Lingkungan dan Tidak Impor

Untuk meningkatkan pemakaian gas untuk rumah tangga, PGN meluncurkan Program PGN Sayang Ibu, menambah satu juta sambungan baru gas rumah tangga. Program ini dimulai tahun 2014 dan berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya.

Gas bumi memiliki keunggulan dibandingkan bahan bakar dapur lainnya seperti LPG (liquified petroleum gas). Selain harganya murah, gas bumi berasal dari perut bumi Indonesia, ramah lingkungan, praktis dan aman.

Sebagai perbandingan, sebuah rumah tangga yang menghabiskan satu tabung 12 kg LPG per bulan mesti merogoh kocek Rp 100.000. Dengan jumlah pemakaian yang sama, rumah tangga pengguna gas bumi PGN cukup mengeluarkan duit Rp 40.000.

Di bidang transportasi, PGN menyuplai gas untuk 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Jakarta. PGN juga mengoperasikan sendiri sebuah SPBG di Pondok Ungu Bekasi dan Mobile Refueling Unit (MRU) di Monas, Jakarta. Tahun ini PGN juga menambah 16 SPBG dan MRU atau SPBG bergerak di Jakarta, Surabaya, Bogor dan Sukabumi.

Penambahan jumlah SPBG dan MRU itu dilakukan dalam upaya percepatan konversi BBM ke BBG di sektor transportasi. Percepatan ini menjadi penting untuk mengurangi beban subsidi BBM transportasi yang terus membengkak setiap tahunnya. Tahun ini nilainya Rp 200 triliun. Dana ini sebenarnya bisa disalurkan ke sektor pendidikan, kesehatan dan sektor produktif lainnya.

Dalam pengembangan infrastruktur gas untuk sektor transportasi ini, pada tahap awal PGN bersedia menomboki. Dengan harga jual BBG saat ini sebesar Rp 3.100 liter setara premium, tak menutup beban pokok dan operasi. Idealnya untuk harga BBG dari SPBG, setidaknya dijual Rp 4.500 per liter. Ini masih jauh lebih murah dibanding dengan harga bensiun premium bersubsidi sebesar Rp 6.500 per liter.

Gas bumi memang menjadi pilihan yang bijak bagi bumi pertiwi di saat minyak bumi sudah sangat membebani. Produksi minyak Indonesia terus menurun dan di saat yang bersamaan konsumsi meningkat. Ketergantungan bangsa ini terhadap minyak harus dikurangi dan disubstitusi dengan gas bumi. Dengan jumlah kandungan terbukti gas bumi Indonesia saat ini, tanpa ada penemuan baru, masih cukup untuk 70 tahun ke depan. Dengan kondisi yang sama minyak bumi akan habis dalam 11 tahun ke depan.

0 komentar: